Sebuah Perjalanan Panjang Kasih Sayang sang Kreator Ulung

Featured

Kalau mencermati proses perkembangan janin dalam rahim, tidak cukup rasanya sujud-sujud saya dari mulai pertama kali bisa shalat hingga seusia ini, mengungkapkan ketakjuban dan kekaguman pada sang Kreator Canggih, sang Pencipta dan Pembentuk Ulung tiada duanya, Pahatan-Pahatan Rahmatnya pada seorang calon jabang bayi dari mulai embrio sampai menjadi bayi melalui tahapan yg super sempurna. Jasad, ruh, kemampuan dan perasaan  jabang bayi begitu agung Dia kembangkan sesuai dengan lama usia dalam kandungan sang bunda, kalau bisa disebut dalam bahasa mahluk spt kita begitu sabar dan telatennya tahap demi tahap selama +/- 9 bulan 10 hari Dia Ukir dengan Rahmat dan KuasaNya tubuh mungil itu, sekaligus dilengkapi atribut-atribut cairan ketuban dan tali pusat untuk katakan pada tubuh mungil KreasiNya “Kalau Aku berKehendak Menciptakanmu dari tidak ada menjadi ada, dan Membentukmu dari setetes cairan menjadi sebuah jasad seperti ini, kau juga harus tahu bahwa Aku juga Maha Pelindung dan Maha Penjaga pada ciptaanKu, bahkan sejak Kutitipkan kau dalam rahim ibumu, tidak sesaatpun Aku lalai dengan Melengkapi pengaman-pengaman yg dapat melindungi dan memeliharamu.

Subhanallah kalau saja setiap moment dalam tahapan hidup dapat kita ambil hikmahnya, yang ada hanya decakan kagum dan haru yg dalam pada kasih sayang Robb. Setelah perjalanan panjang dalam rahim ibu, ketika kita siap terlahir, tumbuh dari bayi menjadi kanak-kanak sampai akil baligh kasih sayangNya pun tidak Dia lepaskan… apa benar? Lalu lewat siapa dia delegasikan kasih sayangNya setelah itu? tentu saja Dia Maha Tahu cara pendelegasian itu. Ditiupkannya jiwa malaikat dalam qolbu para ibu untuk menjalankan misi kasih sayang dari sang Robb, melalui belaian lembutnya, hembusan hangat nafasnya, peluk cium mereka, doa doa mereka, kelelahan-kelelahan mereka, canda-canda mereka, malam-malam panjang yang mereka lalui, didikan-didikan mereka, tangis-tangis mereka, bahkan taruhan nyawapun rela mereka korbankan demi memberi laporan pada sang Pemilik titipan atas tugas mulia mereka, dengan katakan, “titipan-Mu aman dan nyaman bersamaku karena aku mencintainya karenaMu, meski itu hanya titipan dan bukan milikku.”

Saat usia kita menginjak akil baligh, saat itu Dia wujudkan kasih sayangNya dengan mengajak kita lebih mengenal Dia lebih mendalam, lewat kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan, dengan berbagai ujian dan cobaan, untuk apa semua itu? untuk membebani punggung dan jiwa kita? untuk memuaskan hatiNya karena Dialah sang Pemilik? Untuk membelenggu raga, hati, dan pikiran kita?

Sama sekali tidak! semoga sampai kapanpun jangan pernah terlintas dalam qalbu sang mahluk lintasan pikiran semacam itu. Kasih Sayangnya pada kita yang mulai dewasa yang Dia Maha Tahu kondisi kita yang mulai sedikit demi sedikit tidak tergantung lagi pada malaikat-malaikat kita (baca: ibu) membuatNya harus Mencari strategi-strategi baru agar kita tetap dapat Dia Jaga dan Dia Lindungi. Tidak lain melalui strategi perintah, larangan, ujian, cobaan, musibah dsb tersebut. Kita diajakNya lebih mengenalNya, mencintaiNya. Semua untuk diri kita sendiri, agar kita makin merasakan Kasih SayangNya yang tidak pernah putus sekejappun. Dia Ajak hati dan pikiran kita di usia matang kita lebih tenteram dan tenang, melalui zikir-zikir dan sahalat-shalat kita, melalui empati kita pada anak yatim dan fakir miskin, melalui penjagaan hati, lisan, dan panca indera kita dari hal-hal yang dapat merusak diri kita sendiri. Melalui pengendalian nafsu syahwat kita yang pada ujungnya untuk kebaikan kita sendiri, agar curahan Kasih SayangNya kita sambut dengan tenteram dan tenangnya jiwa kita, sehingga bisa berbalas (bahasa kerennya connect). Bukan sebaliknya, saat Dia akan Mencurahkan Kasih Sayangnya pada kita, kita dalam keadaan labil, stress, depresi, berpenyakit hati, berpenyakit jiwa (bahasa kerennya galau😀 ) yang tidak lain akibat ulah kita sendiri. Akibatnya uluran kasih sayang itu tidak kita balas semestinya, bahkan kita abaikan karena tidak kita sadari, naudzubillahi mindzalik.

Lalu apa sih sebetulnya misi paling besar Robb kita sang Kreator Ulung dengan segala curahan Kasih Sayangnya yang besar pada kita, tanpa sekejap matapun Dia Lepaskan, begitu pula PenjagaanNya, PerlindunganNya, PemeliharaanNya pada kita, sejak mulai Dia Titipkan bakal embrio diri kita dalam rahim ibu-ibu kita,  sampai menjelang ajal kita? bahkan saat kita lalai, lupa, khilaf, bermaksiyat, atau lebih parah membangkang pada Nya? Tetap tidak Dia Lepaskan Kita dari Kasih Sayangnya. Tentu saja pengecualian bagi yang menyekutukanNya atau kafir dari agamaNya dan tidak bertaubat sampai akhir hayatnya. Mereka itu hanya dapat merasakan ke Maha Pengasih Nya dan bukan Maha PenyayangNya seperti kepada kita orang-orang yang memiliki iman dalam hatinya.

Bahkan diiming-iminginya kita dengan bagian terbesar dari RahmatNya di Surga nanti dengan perbandingan 1% berbanding 99% akan dilimpahkan di surgaNya kelak. Subhanallah Kasih SayangNya yang kita rasakan di dunia ini begitu melimpah lewat nikmat-nikmat terbesar hidup kita dan nikmat-nikmat lainnya, ternyata hanya persekot, down payment yang belum seperberapanya dibanding janji di surgaNya kelak, serta kenikmatan memandang WajahNya, karena sesungguhnya Dia tidak akan Mengingkari janji….Innallaha laa yukhliful mii’aad.

Kembali kepada misi apa (bukan kembali ke laptop) sebetulnya yang paling diInginkan Robb kita Allah Jalla wa’ala dengan Kasih Sayangnya pada mahlukNya yang berjiwa tenteram dan tenang? Silahkan simak arti Qur’an Surat Al-Fajr ayat 27 – 30 berikut……

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada RobbMu dengan hati yang ridha dan diRidhaiNya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.”

Allahu Akbar, bukan main! Betapa Kasih Sayang Nya yang tidak terputus sekejap pun pada hamba-hambaNya yang beriman dan mau memiliki jiwa yang tenang dengan keimanannya tersebut …. diUndangNya kita sebagai tamu agung di surgaNya kelak plus bonus-bonus lain diantaranya kenikmatan memandang WajahNya, dan sisa persekot RahmatNya yang juga akan kita terima…. Wallahu ‘alam bishawab  Aamiin…. Insya Allah…..

Semoga……

Sepucuk Surat dari Ibu ……..

Gallery

Untuk anakku ……… Ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku. Suatu ketika aku memecahkan piring atau menumpahkan sup di atas meja, karena penglihatanku berkurang…… Aku harap kamu tidak memarahiku. Orang tua itu sensitif, selalu merasa … Continue reading