Menata Ketegaran Hati

Kalau kita bergelut dengan lapangan perjuangan, maka lapangan perjuangan itulah yang akan menghidupi kita

Yang memberikan kita jalan untuk penghidupan adalah lapangan perjuangan. Jangan dibalik bahwa dibalik lapangan penghidupan kita akan ada jalan menu lapangan perjuangan, karena “In tanshurullaha yanshurukum”. Tapi kalau kita berjuang hanya demi memerjuangkan diri sendiri, apalah arti diri kita dan perjuangan kita? Tak akan berarti apa-apa.

Khususnya generasi muda dan manusia pada umumnya terkadang tak sabar. Ketika melihat seseorang berhasil, kemudian dibarengi bisikan setan, ia akan segera ingin menjadi seperti orang itu. Lalu mulai bergejolak dalam hatinya:     “Kapan…kapan?” Orang seperti ini akan mudah hancur, karena memang belum waktunya ia memeroleh apa yang ia inginkan. Ibarat anak kecil yang belum bisa mengendarai motor lantas diberi motor, iapun akan hancur.

Begitulah jika kita kerap merasa enak. Karena keenakan itulah orang justru menemui kehancuran. Dengan keenakan, orang tak lagi sempat berfikir tentang lapangan perjuangan dan nasib orang lain. Yang ia fikirkan hanya keenakan diri sendiri. Disinilah letak keharusan kita untuk tegar dalam mengarungi lautan kehidupan. Ketegaran dapat dimiliki dengan jalan membiasakan diri untuk menata hati, sehingga hati kita akan tertata dan terbiasa. Karena membiasakan hati dalam ketegaran yang prima itu perlu.

Apa yang kita mau? Lapangan perjuangan ataukah lapangan kehidupan? Banyak orang mengejar kehidupan, dan mereka berkata: ”Bagaimana kita hidup, sedangkan mencari sesuap nasi saja belum bisa. Mau berjuang, apa yang akan dijadikan untuk berjuang?”  Ini salah. Ada sebuah hadist qudsi menerangkan, bahwa Allah berkata kepada hamba-Nya: ”Wahai hamba-Ku, mengapa kamu tidak memberi-Ku makan sedangkan Aku memberimu makan?” Hamba itu menjawab: ”Bagaimana aku memberi Engkau makan, sedangkan Engkau rabbul ’alamiin?” Allah menjawab: ”Bukan itu. Kamu memberi makan orang-orang yang tak bisa makan, itu berarti kamu telah memberi-Ku makan.”  Allah bertanya kembali: ”Mengapa kamu tak mendoakan-Ku, sedangkan Aku selalu mendoakanmu?”  Hamba itu menjawab: ”Ya Allah, Engkau Maha segalanya, bagaimana aku mendoakan-Mu? Apa arti doaku bagi-Mu?”  Allah menimpali: ”Kamu mendoakan orang-orang yang perlu kamu doakan, itu berarti kamu telah berdoa untuk-Ku.”

Allah SWT berfirman:”In tanshurullah yanshurkum, wayustabbit aqdamakum.” Kalau kita memenangkan Allah, maka Allah akan memenangkan kita, bahkan ”yutsabbit aqdamana. Para penafsir khalaf mengatakannya sebagai kekuasaan. Al-Qurthubi dan Badahsyi menganggapnya sebagai kekuatan manusia. Harta, kesehatan, tubuh dan ilmu akan dikuatkan.

 Jadi manusia akan dikuatkan dengan catatan in tanshurullah. Kalau ia tidak yanshurullah, atau hanya yanshuru nafsahu au yanshuru qabilatahu wa ailatahu, manusia-manusia model ini tak berbuat untuk Allah. Dan Allah pasti tahu apa yang mereka niatkan. Jangan main-main!! Allah ya’lamu ma fish-shudur. Maka dalam mengarungi lautan ilmu, perjuangan, pengalaman dan lautan hati kita sendiri, kita harus menguatkan dan memperbaiki niat.

Betul kalau dikatakan innamal-a’malu bin-niyyah. Kalau kita tidak memiliki niat baik untuk bersedekah, bagaimana kita akan bersedekah. Niat berjuang saja tak ada, bagaimana akan memiliki kekuatan untuk berjuang. Disaat itu Allah tak akan pernah yutsabbit aqdamana.

 Hidup harus diiringi keyakinan akan janji Allah. Jangan berfikir: ”Ya…kalau Allah menerima.” Jangan pernah berdalih dengan kata ’ kalau’. Karena Allah pasti akan menerima amalan kita. Itulah keyakinan kita. Karena Allah laa yukhliful-mii’aad. Asal betul-betul ikhlas dalam berbuat. Kita harus yakin in tanshurullaha yansurkum.

Dalam bahasa keseharian, banyak manusia yang mendambakan ketegaran hidup. Tak terlalu larut dalam kesedihan di saat duka, dalam situasi riang gembira ia tak lena, dan saat menghadapi musibah apapun ia tetap tegar. Apa sebenarnya makna dibalik tegar menghadapi kehidupan dunia dan segala permasalahan antara diri kita, orang lain, alam, dan Allah?

Masalah pasti akan, harus, dan sudah kita hadapi. Karena manusia memang tak akan bisa lepas dari empat hal tersebut. Yaitu: permasalahan antara manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, dan yang paling sulit adalah masalah manusia dengan dirinya sendiri.

Orang sering berebut untuk mendapat hak, meski belum menunaikan kewajiban. Belajarlah dari kasus perang Badar, ketika kaum muslimin ramai berebut harta rampasan perang, setiap orang mengakui kepemilikan harta pribadi maupun kabilahnya, dan semuanya merasa paling berhak. Kita jangan mendidik generasi yang sekedar ingin memperebutkan hak, tapi harus kita bentuk generasi yang memperebutkan kewajiban. Ada hak, ada kewajiban. Semua manusia yang hanya memasalahkan atau memperebutkan hak adalah manusia-manusia tamak dan tak tahu arti serta pentingnya perjuangan. Apalagi jika perjuangan dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi  (di Resume kembali)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s