Akibat Anak Dilarang Bergaul

Bagi seorang anak berteman atau pergaulan merupakan bagian dari proses sosialisasi dan pengalaman berharga bagi kehidupannya di masa depan. Di dunianya yang yang mulai terbuka ini, ia bisa merasa lebih berarti dan mempunyai kehidupan yang menyenangkan. Tidak heran bila seringkali anak-anak lebih senang menghabiskan waktunya bermain bersama teman-temannya daripada berada di rumah.

Maka, aktivitas ibu atau pengasuh biasanya diiringi dengan mencari anak-anak yang tidak juga pulang walau hari telah menjelang sore. Atau memanggil-manggil pulang si anak yang sedang bermain di luar rumah, dan anakpun biasanya pura-pura tidak mendengar. Memang sebagaimana kebutuhan dasar lainnya, sosialisasi adalah suatu proses dan aktivitas yang mau tidak mau harus dijalani oleh setiap anak manusia.

Wajarlah bila manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, lantaran sejak lahir hingga ajalnya menjemput, manusia sangat membutuhkan lain dalam kehidupannya. Maka, sungguh hal yang tidak masuk akal, bila orangtua terlalu melarang anak untuk bergaul. Entah karena ketakutan pada akibat buruk pergaulan atau karena sebab lainnya.

Namun yang pasti, banyak akibat buruk bagi perkembangan anak lantaran sikap orangtua yang selalu melarang anaknya bergaul, diantaranya:

• Anak menjadi selalu takut pada orang asing

• Selalu diliputi ketakutan saat keluar rumah, karena merasa lingkungannya tidak aman. Itu kan yang sering dikatakan orangtuanya, tentang penculik yang selalu menculik anak yang keluar rumah, atau orang gila yang akan mengejar anak-anak yang keluar rumah.

• Perkembangan motoriknya bisa tidak seimbang, karena kurangnya gerakan yang ia lakukannya, yang sebenarnya dapat dipenuhi melalui beragam permainan yang dilakukannya bersama teman temannya.

• Kemampuannya untuk berbagi jadi terbatas, sehingga ia jadi lebih senang main sendirian.

• Selalu kesulitan saat berkomunikasi dengan orang lain.

• Sulit bekerja dalam tim. Kerja tim butuh kerjasama. Bila anak tidak terbiasa bermain bersama teman-temannya, maka kemampuannya untuk bekerja dalam tim juga sangat terbatas, apalagi untuk menjadi pemimpin.

• Akibat jarang dan sulit berinteraksi, rasa empati anak menjadi tidak terasah. Ia tumbuh menjadi pribadi yang kurang memahami sudut pandang orang lain. Bisa jadi orang akan melihatnya sebagai pribadi yang tidak menyenangkan.

• Selalu ragu untuk mengemukakan pendapatnya. Ia khawatir terhadap reaksi yang akan diberikan orang terhadap apa yang dikemukakannya. Rasa percaya dirinya semakin terkikis.

Agar anak tidak tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri dan kurang pergaulan, maka cukup bijak bila orangtua memulai langkah pergaulan anak. Berikan kebebasan pada anak untuk berkembang bersama teman-temannya.

Namun, ingat. Yang dimaksud disini adalah kebebasan dengan pendampingan dan kontrol dari orangtua. Bukan sebuah sikap permisif yang memberi seluas-luasnya kebebasan, karena sikap ini justru akan menimbulkan berbagai masalah baru

 Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi No. 7/XVII November 2005/1426 H.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s