Saat Anak Suka Membantah

Ada satu masa di mana anak suka mengatakan dan melakukan hal yang berlawanan dengan keinginan orangtua. Bagaimana kita menyikapinya secara bijaksana agar anak tidak menjadi terbiasa membantah?

Raihan, 4 tahun, kini suka sekali membantah orangtuanya. Bila diingatkan untuk mandi, ia malah minta bermain. Bila ia diminta untuk makan, ia malah menggambar. Bahkan Raihan suka sekali mengatakan ‘tidak’ terhadap ayah dan ibunya jika dimintai tolong untuk melakukan sesuatu.

Misalnya, ketika berkunjung ke rumah nenek, ibunya meminta Raihan untuk menyalami nenek dan kakeknya, tapi Raihan malah ngeloyor ke dapur sambil berkata, “Nggak mau, nggak mau…” Tentu saja ini membuat ayah dan ibunya bingung dengan tingkah laku Raihan.

Evi Elviati, Psi. Psikolog yang bekerja pada Essa Consulting Group mengatakan, membantah berarti menentang lingkungan sosial. Beberapa bentuk bantahan adalah mengatakan hal yang berlawanan dengan keinginan orangtua atau guru, tidak mengikuti aturan, mengerjakan larangan, melawan, protes dan mengkritik. Setiap anak pernah membantah dan menolak aturan orangtua. Bila membantah tidak terlalu sering dilakukan, itu merupakan hal yang wajar karena menunjukan adanya perkembangan kemandirian atau berkeinginan mengatur dirinya sendiri. Tapi, bila anak sering membantah dan tetap membantah jika diingatkan, maka orangtua harus mewaspadainya sebagai salah satu permasalahan dalam perkembangan anak.

Umumnya hal itu mulai terjadi sejak anak berusia 2 tahun, sebab pada saat itu anak mulai berusaha menerapkan otonomi bagi dirinya. Dengan berbagai macam cara, anak ingin mencoba batasan dan otoritas orangtuanya, sementara orangtua lebih memilih untuk bertahan. Pergumulan ini akan berlangsung hingga anak menginjak usia remaja. Menghadapi bantahan anak, orangtua sebenarnya dapat melihatnya dari sisi positif, yaitu dengan memberikan respon yang benar dari tindakan yang terkesan negatif dan keras kepala.

Menghadapi situasi ini, orangtua cenderung menggunakan kekuasaanya secara penuh dan berlebihan, hal ini akan membuat anak tidak berdaya. Akibatnya anak akan menentang atau lari, untuk memperoleh kekuasaannya dengan cara memberontak dan merusak. Sebaliknya, ia bisa jadi akan menyerah dengan membiarkan orang lain membuat keputusan. Mengapa anak suka membantah?

Menurut Evi banyak penyebabnya antara lain, 1. Anak melihat contoh dari lingkungan sekitarnya. Misalnya ia melihat kakaknya sering membantah orangtua. 2. Anak selalu diminta untuk melakukan hal-hal diluar kemampuannya, misalnya anak disuruh mengambil buku di atas rak, padahal anak tidak mampu melakukannya, hal itu mengakibatkan anak membantah perintah orang tua. 3. Anak memiliki keinginan yang berbeda dengan orangtua, misalnya orangtua menyuruhnya mandi padahal anak masih ingin bermain.

Menurut Irwan Prayitno dalam bukunya yang berjudul ‘anakku penyejuk hati’. Yang menyebabkan anak membantah adalah,

a. Akibat penerapan disiplin yang longgar dan ketidakmampuan orangtua untuk mengatakan ‘tidak’ pada anak.

b. Disiplin yang berlebihan, otoriter, perfeksionis dan terlalu mendominasi.

c. Akibat disiplin yang tidak konsisten. Misalnya, ibu akan mengingatkan bila anak tidak gosok gigi sebelum tidur, namun ayah membiarkannya saja.

d. Akibat situasi stress atau konflik yang sedang dihadapi orangtua.

e. Terjadi pada anak kreatif, yang tidak ingin membeo dan hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan.

f. Akibat marah dan kecewa pada orangtua atau anggota keluarga.

g. Terjadi pada anak cerdas dan biasanya suka membantah, namun mereka tahu konsekuensi dari tingkah lakunya.

h. Anak yang lelah, sakit, lapar, atau perasaan tidak enak lainnya.

Evi menambahkan, perilaku membantah bisa muncul di semua jenjang usia, biasanya mulai muncul pada saat anak mampu merangkai kata-kata yaitu sekitar 2 tahun. Dan mulai sering ketika anak usia pra sekolah, SD hingga menjelang pra remaja. Kapanpun anak suka membantah, yang penting bagaimana mencegahnya, agar tidak menjadi kebiasaan.

“Sayangnya, dalam menangani masalah ini orangtua cenderung mencari jalan singkat dengan memarahi anak. Padahal itu justru akan membuat anak mempertahankan perilakunya,” jelasnya.

Evi mengungkapkan cara terbaik untuk mengatasinya, pertama dengan membuka komunikasi dengan anak, untuk mengetahui penyebab dan alasan mengapa anak mempertahankan pendapatnya, sehingga orangtua dapat menemukan jalan keluarnya bersama-sama. Misalnya, anak menolak pekerjaan rumah di sore hari. setelah dilakukan dialog, ternyata anak ingin mengerjakannya setelah nonton film Loone Tunes. Dengan begitu orangtua dapat mengaturnya, tanpa harus perang mulut dengan anak.

Kedua, menerapkan disiplin yang konsisten, menyenangkan dan terbuka. Artinya selain anak yang diminta untuk mentaati aturan, orangtua pun harus konsisten dengan aturan yang ditetapkan bersama. Orangtua harus membuka diri terhadap masukan yang diberikan oleh anak.

Ketiga, ciptakan suasa yang menyenangkan dalam keluarga, karena stress dan konflik yang terjadi pada orangtua, akan mengurangi penghargaan anak pada orangtua, antara lain munculnya perilaku yang negatif. Sekali lagi proses pembenahan itu berawal dari kita sebagai orang tua.

Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi No.9/XV Pebruari-Maret 2004/1424 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s